Posted in caption, random, thoughts, traditional art, water colour

Kota Payung

Fotor_145750110685955
Man your umbrella

9 Maret 2016, gambar ini ifah upload di Instagram dengan caption berikut:

“CEK PAYUNG SEBELUM JAUUUUH~”

Berikut adalah tips untuk hidup damai di Bogor:
1. Selalu bawa payung
2. Selalu bawa payung
3. Selalu bawa payung
4. Punya payung lebih dari satu
5. Jangan beli payung mahal (soalnya mau gimana juga pasti rusak kena hujan bogor mah) πŸ˜…
6. Kalau ga malu, boleh pake payung sosro

Susahnya adalah,
Karena Bogor adalah Kota Hujan, artinya Bogor juga adalah Kota Payung
Kota Payung artinya banyak penjual payung
Banyak penjual payung artinya banyak payung kembar

Gausah malu kalau pake payung di Bogor terus tau-tau orang di depan, belakang, kanan, kiri pake payung yang sama
Itu biasa

Makanya, kalau abis ngeringin payung di tempat umum (misal, di lobi SC atau di pelataran masjid) cek payung sebelum jauh. Salah-salah malah payung orang dibawa gegara sama payungnya 😱
Atau kalau payung kamu terlanjur dibawa orang,,
Nah itu namanya NASIB

Tips terakhir untuk hidup damai di Bogor:
Belilah payung dengan warna paling nge-jreng atau motif paling norak.
Jadi, selain kamu bakal stand out dan terlihat anti-mainstream, payung kamu juga ga akan ketuker~
Karena nggak ada orang lain yang mau beli payung itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Post itu dibuat saat Ifah masih menjadi pemilik dari payung bunga-bunga yang “cukup” norak.

Or so I thought..

Ternyata payung itu tidak cukup norak karena sekarang ifah adalah wanita tidak berpayung.
Payung itu pergi entah kemana sebulan yang lalu

Ifah, yang insyaAllah tahun ini akan meninggalkan Bogor dengan elegan~ telah memutuskan akan menghabiskan sisa waktu disini dengan menikmati dahsyatnya hujan Bogor.

Then I will celebrate my graduation with new umbrella~

Posted in caption, friends, photos, school, slice of life

Colloquium

Saya gatau dFotor_145993643800748an agak nggak peduli juga definisi Internasional dari “Colloquium” itu sebenarnya apa. Tapi berdasarkan kamus besar Departemen Biologi IPB yang mungkin atau juga tidak mungkin akan di tulis oleh saya sendiri, Colloquium atau Kolokium adalah kegiatan super penting yang akan mendekatkan diri anda kepada kelulusan. Kegiatan ini berupa presentasi rencana penelitian anda yang disertai sesi tanya jawab dengan para audiens. Kegiatan ini tidak akan tercapai kalau anda tidak memiliki setidaknya 20 orang teman yang rela memberikan 20 menit dari waktunya yang berharga hanya untuk mendengarkan anda berbicara di depan kelas walau belum tentu mereka benar-benar peduli pada apapun itu yang anda bicarakan.

Saya, melalui kolokium ini, telah membuktikan, bahwa setidaknya saya memiliki 20 orang teman yang rela melakukan hal tersebut. Saya bersyukur.

Beberapa hari yang lalu (lebih tepatnya 5 hari yang lalu) saya akhirnya melangsungkan kolokium. Ya.. AKHIRNYA. Demi melangsungkan hal ini, saya telah melewati bulan-bulan penuh perjuangan dan kebaperan. Ada tepatnya 99 mahasiswa Biologi 49. Sampai tanggal 6 April 2016, tercatat 97 orang telah melangsungkan kolokium. Itu artinya tersisa 2 orang lagi yang belum juga melangsungkan kolokium. Saya dan seorang lagi. Saya nyaris menjadi orang terakhir yang melangsungkan kolokium kalau kemaren saya gagal lagi kolokium. Tapi tidak… kali ini saya berhasil.

Penelitian saya tentang…

Ah… NGGAK JADI!
jangan ngomong jorok disini! jangan bahas itu disini!!
Pokonya kamu udah selelsai kolokium fah. Untuk sekarang, itu yang PENTING!!

anyway, tulisan ini dibuat untuk semua pihak yang telah berpartisipasi dalam rangka menyukseskan Kolokium saya tanggal 7 kemaren itu. Untuk mas-mas fotokopian makaira yang dengan lihainya telah ngeprinin naskah kolokium saya dengan sangat cantik, ibu dan mas TU yang udah daftarin saya kolokium dan bantuin ngomong ke koordinator kolokium, super kue yang ‘menyediakan’ suguhan di hari H, kedua dosen pembimbing saya yang cantik jelita tiada tara, ibu moderator yang nggak banyak komen soal presentasi saya, dan tentunya teman-teman semua yang rela jauh-jauh ke Fapet dan naik pula ke Lantai 5 hanya untuk menyaksikan saya ngomong di depan kelas selama 20 menit. Terima kasih untuk kalian semua.

Juga buat geng de Taura, beribu cinta untuk do’a-do’a yang kalian ketik di grup WA kita. Dan buat mama yang setia menanti hasil selfie pasca kolokiumnya.

Ini baru kolokium, tapi makasih-makasihnya udah kayak menang piala oscar.

Fotor_146003533841684
Aftermath Photo

 

Diajak foto padahal masih blank itu sama sekali nggak keren..
Tapi kalian lah yang telah memberikan kekuatan ketika kaki ini sangat leleus selepas kolokium.
untuk itu, sekali lagi.. Terima kasih ^_^

Posted in random, thoughts

Ah ya!!

Ah iya!!!!

Saya..

Aku..

Ifah..

Memutuskan untuk mengisi blog ini dengan kisah-kisah yang berada dibalik gambar yang ifah bikin
Kadang ngepost gambarnya di Instagram aja, dengan caption sederhana dan kadang suka ga nyambung juga sama gambarnya XD

Nah mari kita coba ulas kejadian apa yang membuat ifah bikin gambar itu

Kalau nggak ada ceritnya yaudah.. berarti itu hanya gambar random yang tidak penting tapi muncul begitu saja sebagai hasil dari pemikiran otak yang sedang berusaha mengabaikan hal penting lainnya yang seharusnya dikerjakan. Intinya.. menghabiskan waktu.

Nulis ini juga..

Nulis blog juga..

Ngabisin waktu

Terus kenapa?

Kenapa?

Posted in caption, friends, ootd, slice of life, traditional art, water colour

Makrab loh

makasih loh~
20 Maret 2016. Soaked

Singkat cerita, Ifah kini bagian dari Kemdik.
Apa itu Kemdik?
Itu cerita lain.. disini hanya akan ada cerita dibalik gambar di atas

Jadi ceritanya kemaren (kemareeeeen banget, semacam sebulan yang lalu karena sekarang udah ganti bulan juga~), Ifah ikut MAKRAB!
Makrab adalah singkatan dari Malam Keakraban
Sebenernya ini ceritanya rahasia, karena nggak ada yang tau Ifah kemaren ikut makrab (bohong! semua orang tau kamu ikut makrab!! BOHONG LAGI! Nggak semua orang kaaan?!)
Iya, jadi topik makrab itu sebenernya agak tabu karena seumur-umur kalau minta izin ikut makrab suka gak dibolehin wae sama mama. Beda loh, kalau judulnya mabit, mama pasti bolehin.. kalau makrab “birokrasi”nya suka agak lama, Hahahah~ πŸ˜€
Pokonya, kali ini Ifah sukses ikut Makrab, 2 days and 1 night (kayak Reality Show Korea aja), bareng sama anak-anak Kemdik dan IM

Jadi, Kemdik dan IM ini bersahabat. IM adalah sahabat Kemdik dan Kemdik adalah sahabat IM. Kita bukan keluarga, karena kata Mogi (siapa dia?)… anyway, kata Mogi kalau keluarga nggak bisa nikah.. TERUS??? XDXDXD (abaikan ya). Nggak kok, dalam kondisi tertentu kita juga bisa jadi keluarga. Kita seharmonis Keluarga Cemara yang dulu suka muncul di tipi (ketauan walasnya deh)

Jadi kemaren makrabnya itu di daerah Gunung Bunder, di suatu villa yang Ifah lupa namanya. Intinya, villa nya ada Kolam Renangnya. Iya, Kolam Renang itu intinya karena si Kolam Renang ini memegang peran yang penting dalam cerita ini.

Jadi ceritanya kita sampai di villa itu sekitar Maghrib. Kita kesana naik angkot, nyarter. Kemdik dan IM muat 2 angkot saja, karena kita langsing dan nggak rempong. Jalan menuju villa nya.. aku nggak inget. Pokonya ada bagian yang muter muternya gitu. Ifah berasumsi mungkin karena lokasi villanya di Gunung Bunder jadi jalannya muter. Kayak lamaaaaa banget… Nyampe sana kita menyaksikan sunset yang berwarna oren. Iya.. ini penting, karena langitnya difoto pake HP Alfi buat jadi laporan ke Insan bahwa kita sudah sampai dengan selamat.

Jadi begitu kita sampai, kita langsung shalat Maghrib, naro barang di kamar masing-masing, terus naik ke saung yang di lantai atas (yang juga merupakan kamar anak cowok) buat makan malam dan Opening Ceremony. Layaknya Opening Ceremony dimanapun juga, pasti ada yang namanya sambutan. Karena orang yang seharusnya jadi perwakilan Kemdik belom datang (read: Insan) akhirnya….. sudah… tidak perlu dilanjutkan.

Jadi sebenernya rencananya kita malam itu mau ada Post post game gitu. Nanti di akhir postnya bakal ada pengukuhan yang dipimpin oleh Mogi (wah nama ini muncul lagi). Niatnya pengukuhannya mau pake lilin lilin biar romantis gitu. Tapi ternyata jatohnya mistis karena lampu di sekitar kita MATI semua dalam rangka Earth Hour. Ifah yang lagi tugas megang kamera jadi rada cemas gitu takut ada hal hal tidak enak yang muncul di kamera. Jadi nge-shootnya sambil merem-merem (ini alibi karena ngantuk).

Jadi kapan kolam renangnya muncul?! Oke.. ini muncul sekarang

Jadi pas malam itu mau tidur, Ifah ngecek kolam renang dan ada Kodok lagi berenang disana. Oh my~

Jadi walau namanya malam keakraban, sebenernya malam itu dihabiskan dengan mengakrabkan diri dengan kasur di villa itu. hahah. Posisi tidurnya agak aneh, terus disebelah kanan ada Ulan di kiri ada Ari. Pas Ulan bangun pagi, Ifah kebangun juga, Ulan pergi, Ifah tidur lagi. Terus Ari bangun, Ifah kebangun juga, Ari pergi, Ifah tidur lagi. Akhirnya bangun benerannya karena suara Insan yang teriak dari atas ngajakin Ramen (Rapat Kementerian) dadakan.

Jadi akhirnya terjadi juga lah Ramen yang sudah ditunggu-tunggu di tempat yang berbeda dari biasanya. Di dalam saung, di alam terbuka, dengan pemandangan rerumputan hijau dan backgroud gugunungan. Nah.. abis Ramen kita dipanggil buat sarapan (kocak yang manggil buat sarapannya Agung sama Rizki, kakuuuu banget, kayak manggil dosen). Abis sarapan, kita senam abis itu games lagi. Kali ini Kemdik juga ikut gamesnya (kalau semalem Kemdik jaga post doang). Nah… ini dia inti dari ceritanya.

Jadi salah satu dari game-nya itu adalah kita harus masukin air ke baskom secara berantai. Tapi gelas yang dipake buat mindahin airnya itu udah dibolongin. Dan !!!! Dan estafet airnya harus di atas kepala. Ya basah udah itu mah… Untung kelompok kita kebagian game itu terakhir.
TAPI!!! Karena udah “terlanjur” basah, kemudian ada orang yang sok ide “nyebur aja sekalian”. Awalnya itu, sebelum game dimulai anak-anak Kemdik ceritanya ngisengin Insan (iseng bukan sih nih). Akhirnya insan diceburin ke kolam. Terus masuk kolam, keluar-keluar gak pake kaca mata. Golbi sok baik gitu (jahat banget ini bahasanya XD) ikut-ikut liat kedalem kolam kayak bantuin nyari. Eh.. sama Lilis di dorong. Jadi nyebur jugalah Golbi itu. Dalam proses game tadi, Wike, Lilis, Alfi dan Yoga juga kena basah. Tapi mereka basahnya udah maksimal. Akhirnya, selepas semua game selesai Tasya dan Lilis sekongkolan nyeburin Ifah ke kolam juga. Iya.. kolam yang itu. Yang tadi semalem ada kodok berenangnya. DEMI APAPUN. Begitu di tengah kolam dan berhasil kembali ke permukaan (kayak apa deh ni =,=) agak loading dulu bentar. “ini.. serius gue basah??” kayak orang bego. Sadar pas liat Insan nyuruh cepetan keluar dari kolam (Kenapa ya ini tapi? Lupa… ^^”). Langsunglah itu.. buru-buru keluar… jadi orang pertama yang bersih-bersih.. dan jadi orang pertama kering lagi. Pas keluar udah rapih, semua orang masih nongkrong di pinggir kolam. “Berjemur” katanya XD. Ada aja yang nyeletuk “Eh, kak Ifah masih kering?! Sini diceburin dulu!!!” hadeeeuuuh~ suka kelewat inisiatif mereka ini kadang-kadang. Sekalinya menyanggupi ikut Makrab, keluar-keluar kayak tikus got XD. hhhhh~ sampai lelah kalau inget kejadiannya.. hahahahah~

Jadi, begitulah kisah dibalik gambar tersebut. Hmmm… sekarang pikir 1000 kali kalau mau makrab. Terutama cari tau tempat makrabnya ada Kolam Renangnya nggak.. kalau ada.. nah itu.. ati-ati aja~

Nah… sekarang pertanyaannya adalah..

Jadi berapa kata jadi yang ifah pake untuk post ini?? Kenapa semua paragraf awalnya pake Jadi?? Ini repetisi yang tidak penting!! Mohon di abaikan XD