Posted in caption, criminal minds, digital art, fan art, gublernation, matthew gray gubler

Dr. Spencer Reid

mgg-j.jpg.jpg

First known him when I first watched one of Criminal Minds episodes. He played as Dr. Spencer Reid, the genius boy of the BAU Team, Gideon’s pupil, with huge and thick glasses and shiny hair.

I remember when Hotch made a comment when Reid finally change his hairstyle a few seasons later, “What, you joined a boy band?”. That was hillarious πŸ˜‚

After that, I found him played an unsignificant character as the lead-role’s best-friend on “500 Days of Summer”. I watched it because I knew Zoe was on it and this guy appeared out of nowhere was a pleasant surprise.

CM is absolutely my favorite serial, of course besides Supernatural and Grimm, but Dr. Spencer Reid is the character that cathes my eye. And ‘knowing’ the man behind the genius character is.. well let’s just say I’m a proud fan πŸ˜….

I’m not an avid fan. My fan-activites other than watching CM episodes over and over again, would be following his instagram account and pinned everything related to him on pinterest. Oh well, I did watch Suburban Gothic because he promoted it so much on his IG. (What should I say about that movie.. I get the humor but I guess it’s too.. vulgar? Yes.. I guess vulgar is the appropriate term. It’s too vulgar for my taste.)

This is my secondΒ Β fan-art of him and I would say, this is far better than the first. πŸ˜…

Well, everyone.. Say Hi to my version of Matthew Gray Gubler.

Posted in caption, digital art, family, fashion

Baju Cantik dan Wajah Bahagia (Part 1)

Judulnya boleh dimanipulasi jadi wajah cantik dan baju bahagia. Boleh aja silakan. Tergantung situasi dan preferensi. 😏

Jadi ceritanya, anak-anak cewek di keluarga ifah punya 1 baju yang khusus dikeluarkan dari lemari kalau kita harus jadi bridesmaid. Dan karena sepanjang sejarah, baru 2 kali ifah harus jadi bridesmaid, maka baju itu baru keluar dari lemari sebanyak 2 kali.

Ide ini muncul ketika mbaknya ifah yang pertama menikah. Saat sedang mencari solusi bagaimana cara menghemat budget pernikahan seumur hidup. Maka kami, para cewek-cewek yang memang sumber terbesar pengeluaran pun berinovasi.

Baju bridesmaid sepanjang jaman.

Bajunya sederhana. Long dress berlengan panjang warna silver dari bahan satin tanpa hiasan tanpa lukisan. Masing-masing punya satu. Idenya adalah, baju itu akan dipakai setiap anak di keluarga ini ada yang menikah. Tinggal di tambahkan outer yang sesuai wedding theme plus jibab yang senada.

Jadi baju ini harus bertahan sampai nanti anak ke-5 di keluarga ini menikah.

Ketika mbak yang pertama menikah, pasangan dari baju ini adalah blazer panjang button-less warna ungu plus jilbab putih motif bunga warna ungu.

Dan ketika mbak yang kedua menikah, bulan lalu, pasangan baju ini adalah outer warna peach dengan bahan semacam lace di bagian atas dengan terusan tutu-skirt. Yang design mbak yang pertama. Design dan jahitnya di Malang, jadi kita sama sekali nggak liat bentuk jadinya sampai akhirnya mbaknya datang ke Bandung pada H-1 hari pernikahan. Di Bandung sudah disiapkan jilbab pasangannya, pashmina instan yang kita pikir warnanya senada. Tapi ternyata setelah disandingkan di kehidupan nyata. Nggak matching πŸ˜….

Tapi kita bodo amat. The wedding must go on.

wp-image-774823485jpg.jpg

Ini kira-kira penampakan baju yang kedua.

Ifah jadi pengen bikin yang pertama.. 😐

Oke mari kita agendakan πŸ˜…

Personally, ifah lebih suka baju yang kedua. Karena tampak unyu dan kalau kena angin tutu-skirtnya kayak terbang-terbang gitu. Aslinya tutu-skirtnya panjang banget dan menyapu lantai.

Gambar ini warnanya sudah disesuaikan sehingga outer sama jilbabnya tampang matching. Hahahah πŸ˜…

Anyway, kalau ifah akan nikah artinya ifah musti siapain design buat outer yang ke-3.

Pertanyaannya adalah…

Ifah, apakah kamu akan menikah?

Posted in caption, digital art, family, fashion

Wedding

Omaigat omaigat

Ini kayaknya judul paling kontroversial yang pernah ifah bikin!!!! (Who cares~? πŸ˜‘)

Biar ifah klarifikasi. Ini bukan mau sebar undangan walimahan ifah atau siapapun. Ini cuma mau nge-post gambar ini..

bride-bana-hhh-copy.jpg.jpg

Siapa ituh?!

Yang pasti, bukan ifah πŸ˜…

Itu mbak-nya ifah yang ke-2. Mbak ifah ada 2. Yang 1 udah nikah pas ifah tingkat 1 atau 2 gituh… Lupa. Yang 2 baru saja menikah bulan lalu~

Yeay…

Belum sempat bilang selamat sama mbaknya. Aneh gak sih bilang, “selamat ya mbak udah nikah~” ke kakak sendiri?? Ifah merasa itu aneh. Waktu mbak yang 1 nikah kayaknya nggak bilang gituh..

Jadiiii.. Ifah pun bikin ini untuk menyelamati mbaknya. Hahahahahahahah~

Mbaknya menikah dengan seorang pria yang tidak ifah kenal. Yah.. Sesungguhnya ifah emang gak pernah kenal sama siapapun calon mbak ifah sih. Dari jaman mbak yang 1 juga, baru kenal ketika akhirnya calonnya datang ke rumah untuk ngelamar mbaknya. Mbaknya yang ke-2 ini juga sama seperti itu kasusnya.

Kejadiannya gini.

Ifah lagi di kampus, tiba-tiba mbaknya yang jarang nge-WA ini tiba-tiba nge-WA. Dan dengan santainya nge-chat

“Fah, tanggal XX pulang yah. Mbak mau lamaran..”

WHAT?!

Siapa yang gak bakal teriak WHAT kalau tiba-tiba kakaknya tanpa angin tanpa hujan tanpa petir tanpa geledek bilang ada yang mau ngelamar. Pertanyaan yang sudah jelas akan ditanyakanpun terlontar.

“WHAT?! Tiba-tiba aja?! Sama siapa mbak??”

Lalu mbak pun menyebut sebuah nama yang asing.

And I was like, who the heck is that??? 😱

Seketika chat-room itu berubah menjadi interogation-room. Siapa dia? Dari mana datangnya? Nemu dimana? Orangnya kayak apa? ID Instagramnya apa? Bisa di stalking nggak?

Dan ternyata… Satu-satunya info penting yang bisa ifah dapatkan dari chat itu adalah..tanggal ulang tahun masnya sama kayak ifah. Wow. 😐

Anyway, dengan informasi yang secuil itu, ifah pun pulang demi bertemu sang calon. Calon mbaknya maksudnya…

Begitu sampai di rumah, introgasi berlanjut. Akhirnya sama mbaknya, ifah diajakin stalking FB masnya.

Hmmm…. Baiklah. Masnya tidak tampak mencurigakan.

Lalu, terjadi lah hari yang ditunggu.

Masnya datang ke rumah bersama keluarganya. Ini jadi pertemuan perdana ifah dengan masnya.

Inikah yang disebut lamaran? Ifah nggak inget waktu mbak yang pertama lamaran kek mana. Kayaknya serupa-serupa ini juga. Bapak ibu saling ngobrol. Kita anak-anak diem aja sambil menikmati hidangan yang kita masak sendiri.

Lamaran yang ternyata sekedar menyampaikan niat baik pun berakhir. Lancar dan damai. Ifah pun kembali ke bogor dengan tentram.

Pertemuan berikutnya ifah dengan masnya adalah di hari pernikahannya. Ifah baru pulang lagi H-1 hari pernikahan. Semua sudah direncanakan. Ifah tinggal hadir pakai baju cantik dan pasang wajah bahagia.

Dan itulah yang ifah lakukan. Hadir pakai baju cantik dan pasang wajah bahagia. Tidak lupa foto-foto dan makan-makan. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Hari itu pun berlalu kayak hari-hari lainnya.

Luar biasa ya. Hidup seseorang, yah..dalam hal ini dua orang, berubah seketika hanya dalam satu hari. Tiba-tiba sudah bukan tanggung jawab mama dan ayah. Tiba-tiba sudah punya tanggungan anak orang. Pasti banyak tiba-tiba yang lain yang akan muncul setelah melewati hari bersejarah itu.

Beberapa hari kemudian ifahpun lagi-lagi kembali ke Bogor, meninggalkan mbaknya yang kini sudah jadi istri orang. Ya, istri suaminya. Iya lah πŸ˜‘

Sudah lebih dari sebulan berlalu sejak hari pernikahan mbak dan masnya. Nampaknya semua bahagia. Grup keluarga pun bertambah 1, grup WA yang isinya hanya kita ber-7, dan grup LINE yang isinya kita ber-7 plus dua orang pria bertitel kakak ipar.

Gitu deh cerita tentang bagaimana akhirnya mbaknya ifah melepas masa single-nya. Halah. Yaaah~ selama mbak hepi, ifah juga hepi.

Jadi, selamat berhepi-hepi ria~

Posted in caption, digital art, friends, graduation project, school

Wisuda (tapi bukan ifah)

Hari ini kampus tercinta kembali mengadakan wisudaaa~

Kabarnya, wisuda hari ini adalah wisuda periode I bagi angkatan 49. Artinya… Ini adalah wisuda perdana yang Β mewisudai anak 49~ wow wow wooooow

Wisuda kali ini nggak ada yang spesial, karena ifah tidak diwisuda kali ini. Tapi bagi beberapa orang di luar sana, bisa jadi wisuda kali ini adalah wisuda yang spesial. Karena mungkin, hari ini dia diwisuda, atau anaknya diwisuda, atau kakaknya, atau adeknya, atau keponakannya, atau om dan tantenya, atau ayah dan ibunya, atau istrinya, atau suaminya, atau temannya, atau musuhnya, atau pacarnya, atau gebetannya, dan atau atau lainnya, diwisuda hari ini.

Hmmm.. Jadi sebenernya, mungkin wisuda kali ini juga bisa jadi spesial bagi ifah, karena..Β beberapa dari beberapa orang yang menganggap wisuda kali ini spesial, adalah teman ifah~

Teman 1. Eka Fitriani

wp-image-1681845377jpg.jpg

Namanya Eka Fitriani. Secara resmi menjadi anak biologi 49 pertama yang diwisuda. Ketemu eka pertama kali….. Nggak inget. Kenal eka pertama kali…. Nggak inget juga. Ngobrol sama eka pertama kali… Pun nggak inget. Sebenernya sama eka nggak bisa dibilang akrab. Frekuensi ngobrolnya nggak banyak. Nggak pernah hang out bareng juga. Cuma inget waktu praktikum biokimia sekelompok sama eka. Anaknya rajiiiiin banget, kerjanya rapih dan cepet. Super cantik dan anggun. Senantiasa tersenyum dan baik hati serta tidak sombong.

Selamat atas wisudanya eka. Nggak akrab di bio, mungkin di masa depan kita diakrabkan oleh Allah. Siapa tau~

Teman 2. Alfi Nurul Syahidah

wp-image-64058546jpg.jpg

Alfi yang putih, kecil dan imut kayak moci. Kalau nggak ngomong mukanya jutek, kalau udah ngomong nggak bisa berenti. Kalau lagi mager, tidak ada yang bisa menghalau. Kalau lagi semangat, tidak ada yang bisa menghentikan. Apalagi kalau urusannya menyangkut DANUS.

The Queen of DANUS Birena.Β Kalau soal danusan, alfi jagonya.Β 

Kenal alfi di Birena. Terus, udah deh. Birena mempersaudarikan kita~ heheheh.

Jadi akhwat pertamaΒ di keluarga Sawah Birena yang diwisuda. Nice fiiii~ πŸ‘

Teman 3. Rahmat Hidayat

wp-image-519874375jpg.jpg

Rahmat, dimana ada rahmat, di situ ada ajiz. Loh.. Muncul nama ajiz. Nggak boleh bahas ajiz di sini, ajiz belum wisuda soalnya~ hahahah.

Rahmat.. Hemmm apa ya tentang rahmat??

Rahmat juga kenal di Birena. Waktu tahun pertama di Birena, Rahmat anak prokas. Dulu Rahmat jadi ketua pelaksana Ngarojong ka Lembur. Abis itu… Rahmat jadi Kabid FP. Lalu.. Rahmat menjadi satu di antara dua orang anak 49 yang menjadi anggota PSDM. Ini suatu gebrakan besar!!! Dan kini, rahmat menjadi Kabid PSDM.

Begitulah sepak terjang Rahmat yang bisa ifah ingat πŸ˜…. Maaf Rahmat, ifah nggak begitu punya banyak kenangan (halah) tentangΒ Rahmat. Ifah hanya ingat kita pernah maksimal banget waktu danus tajil Ramadhan pas tingkat 2. Itu kocak πŸ˜‚

Walau sudah wisuda, jangan lupa masih jadi Kabid PSDM. Jangan hilang dulu karena kita belum demisioner~ heheheh..

Teman 4. Tri Fauzi Nurhuda

wp-image-682163501jpg.jpg

Bisa kenal sama oji adalah suatu keajaiban. Dipertemukan di suatu kepanitiaan yang nggak kalah ajaibnya, saat sudah menyandang gelar sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Oji, suatu hari datang di bawa oleh Fadli (siapa dia?) untuk join di tim kita. Jadi satu-satunya orang di tim yang bukan anak AGer. Pasti kadang-kadang Oji roaming sama obrolan kita. Maafin ya Oji. Tapi Oji cepat akrab sama kita. Bahkan saat pertama kali ketemu di PKM Centre, langsung enak diajak ngobrol. Ternyata Oji adalah pendahulu ifah di Kemdik. Sesepuh. μ„ λ°°. Hahahah~ Pertama kali ifah dikenalkan ke Oji sebagai “sekretarisnya Insan” (ini juga siapa?).

Oji yang selalu belain ifah kalau lagi diomelin. Oji yang senantiasa gercep dan suka tiba-tiba muncul entah dari mana. Oji yang terus semangat menghadapi segala interview. Oji yang pasti bisa diandalkan.

Walau baru terhitung bulan kenal sama Oji, banyak kejadian seru yang sudah dilewati bersama Oji. Ifah merasa beruntung bisa kenal sama Oji.

Oji yang selama kepanitiaan selalu satu langkah di depan kita, kini sudah 2 sampai 3 langkah lagi lebih jauh.Β Jangan lari cepet-cepet ji, susah ngejarnya πŸ˜….Β 

Selamat wisuda Oji. Semangat bisnisnya. Semoga sukses dan jangan lupa dateng kalau giliran ifah wisuda~

πŸ’›πŸ’›πŸ’›

Itulah beberapa teman ifah yang telah melewati spesialnya hari ini.

Pas tadi keliling keliling di sekitar GWW, ternyata ada beberapa teman lain juga yang wisuda hari ini dan ifah baru tau tadi.

Ada putri sofhia, teman sekelas waktu kelas 7. Ada silmi, teman SD yang sebenernya waktu SD nggak pernah ngobrol sama sekali.

Selamat wisuda kalian~

Dan selamat wisuda bagi semua orang yang merasa telah diwisuda hari ini~ 😁😁😁

Kalian semua luar biasa.

Posted in caption, family, traditional art

My Dad

wp-image-1295163780jpg.jpg

This is my drawing of my dad.

He just turned 55 years old yesterday (13/9). So.. Happy birthday to my dad.

I drew this on my little brother’s sketch book without his permission, guess he’ll be surprised to see my drawings all over his sketch book when he got home~ πŸ˜… sorry πŸ™‡

My dad was away, driving my little sister to campus when I drew it this morning. It was an impulsive action when I saw the sketch book ‘hidden’ under the table.

I thought, why not draw my dad since yesterday was his birthday and I didn’t get him anything~

Well, we never really give anything to anyone in their birthday. Guess birthday is not such a big deal to my family. And I agree, it is not. Why do you have to celebrate the day when you officially got one year less left to live?? It doesn’t make any sense.

The only reason a birthday is a day to remember is because we feel thankful that this person was born to this world today, a few years ago. And I am thankful for my dad for being born for any possible reasons available. Obviously~ 😁

So yes, in order to be thankful, it has became a ‘ritual’ for me to draw my family’s faces on their birthday every years.

I also drew my dad last year on his birthday. A realist one with all the wrinkles and shading. It wasn’t that good though πŸ˜‚

I posted it on instagram last year, and i wished to graduate next year (which would be this year) so he wouldn’t have to drive all the way to Dramaga to get to my campus. Which require a lot (a hell lot) of effort to do with the traffic, weather and other things.

We all know that the wish has a very small possibility to happen because, well.. Here I am. Still researching and sampling and bla bla bla. Yeah.. Whatever.

Anyway, this year I decided to draw the ‘cute’ and ‘smol’ version of him because of.. well.. it’s just the mood I think πŸ˜… can’t really control it~

I posted it (again) on my instagram, with this caption.

πŸ‘‘ I always think he looks like the older (and asian) version of Varamir from The Lord of the Rings movie due to his beard and hair-cut (which i also think is his best feature)

πŸ“ Β He is the source of that “tall gene” in my family

🐦 He loves making riddles about bird and none of us know why he love it so much because despite being a biologist, bird is not his speciality

πŸ“·πŸŽ€ Photography and singing are probably his hobbies

πŸ‘¨ And those are a few facts about My Dad, The man who just turned 55 years old, yesterday~

Yeay~ 😎

It’s an honest thought of a daughter to her father. As honest as it can be.

I do think my father looks like Varamir. You don’t know him? He is that character in Lord of The Rings, Boromir’s little brother, the one that ended up with Eowyn at Aragorn crowning ceremony. Anyway.. It’s him. And my father looks like him. A little older and lot more Asian. But the really do look a like. I don’t know who’s the actor who played as Varamir though. Hmmm.. I’ll look it up later~

And yessss~ my dad’s hair. It’s my favorite feature of him. I just think his hair style is amazing. It made him looks somewhat royal plus with the beard and everything πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ah.. For the record, despite looking good on him, I HATE my dad’s beard. They’re spikey and it hurts when he tries to kiss my cheek. He always kiss our cheek on Idul Fitri and we always try to run away 😁✌ peace Dad.

And about the bird riddle thing. It’s a mystery where all those riddles come from. He always start it with “Burung apa yah, yang…..”. ALWAYS!! With that sentence and low key voice. It’s like his signature. And no matter how lame the riddle is, we always try to answer it with all our might. Aren’t we nice and sweet kids~ 😊

He used to like photography a lot. I think he still does, but just too busy to go out to have some photo session with him self. Now days he really into singing. I’m thinking about getting him a karaoke machine after I graduate so we all can just sing our heart out together. That would be fun 😁

And yes..

That is my dad, the one and only 😎

Posted in random, school, thoughts

Random time

Jadi beberapa teman hari ini mengumumkan tanggal mereka seminar/sidang sekalian minta doa dan semangat gitu

Beberapa teman lain ngapdet foto selebrasi di IG abis seminar dan sidang

Despite no matter how much I am happy for them and support them and congratulate them..

That feeling the kids these days called with baper, is still there

Lingering

Haunting

It makes me feel bad…

Am I a bad person 😱???!!!

But anyway,

I sincerely happy for you guys~

Yeay~

Posted in caption, ootd, random, traditional art, water colour

Hello sunshine~ 🌻

wp-image-1092032080jpg.jpg

Apa ini?

Yak.. Ini adalah gambar saya yang telah saya edit sedemikian rupa sehingga layak dijadikan Profile Picture beberapa media sosial yang aktif saya gunakan dan juga layak untuk saya publish di sini.

Heheheheh…

Apa kisah di balik gambar itu?

Nggak ada… Nggak ada kisah apapun yang spesial.

Saya selalu menyukai bunga matahari. Beberapa hari yang lalu saya melihat bahan dekorasi untuk acara kampus yang disimpan di SC. Bahan dekorasi itu adalah bunga matahari yang dilukis diatas papan kayu besar. Besar sekali seukuran pintu SC mungkin dan juga bagus sekali. Entah siapa yang buat.. Pokoknya bagus.

Sejak melihat itu, saya jadi kepikiran terus. Kemudian ketika sedang iseng-iseng gambar.. Tercetuslah ide untuk gambar di atas.

Sekarang, gambar aslinya, yang apa adanya dan nggak pake acara di edit dulu, tertempel di dinding kamar saya.

Dia menjadi gambar terhormat karena secara resmi telah menjadi dekorasi perdana di dinding kamar saya.

Posted in slice of life

Kamar baru

Kalau post ini dibikinnya 3 bulan yang lalu, mungkin judulnya masih relevan.. Tapi gak papa. Saya yakinkan, bahwa begitu tulisan ini selesai, judul ini akan kembali menjadi relevan

Jadi, 3 bulan berlalu, dan kini genap (atau ganjil? πŸ˜•) sudah 3 bulan saya menempati kamar ‘baru’ ini.

Selama kuliah di kampus pertanian ini ada 3 kamar yang sudah saya klaim menjadi “kamar saya”

Yang pertama adalah kamar 398 lorong 10 asrama A3, yang saya tempati selama 1 tahun penuh di tingkat pertama saya, bersama 3 orang kawan lainnya.

Kamar yang ke-2 adalah kamar kosan perdana saya. Nama kosannya Tazkia. Kosan ini saya ‘temukan’ H-2 pengusiran kami (yang saat itu masih TPB) dari asrama. Jadi ceritanya..

” What?! Serius lusa check out asrama??!!” seruku shock begitu mendengar berita yang di bawa oleh warga kamar sebelah.

” Iya makanyaaaa buruan ayok malam ini kita cari kosan~” lanjut si pembawa berita.

Akhirnya malam itu kami berdua pun berkelana mencari kosan. Sampailah kami pada sebuah kosan yang sedang direnovasi dan jauh dari kata sempurna.

“Ini kosannya si …. ” ujar temanku itu sambil menyebutkan beberapa nama, warga lorong kami. “Bisa berdua, kamar mandi dan tempat jemuran di dalam..” lanjutnya seperti promosi.

“Lagi nyari kosan kak?” tiba-tiba sebuah suara bertanya. Seorang bapak paruh baya muncul dari balik gerbang kosan yang sedang diperbincangkan.

“Iya pak..” jawabku.

Setelah ngobrol beberapa menit dan sedikit lihat-lihat, bapak itu berkata, “Kalau kakak fix mau disini, sama bapak kamar kakak diselesain duluan. Besok juga udah bisa ditempatin..”

“Oke pak kalau gitu!!” jawab kami berdua tanpa pikir panjang.

Besok malamnya, H-1 check out asrama, aku dan temanku yang akhirnya menjadi teman sekamarku pindahan ke kamar baru kami.

Kamar itu saya tempati berdua bersama teman sekamar saya hingga akhir tingkat 2. Setelah itu teman sekamar saya pindah kampus dan saya pun menempati kamar itu sendiri hingga menjelang akhir semester 8.

Bulan Juli tepatnya tanggal 1, saya meninggalkan kamar itu. Inginnya sih alasannya karena akhirnya saya lulus. Tapi itu namanya bohong.

Kenapa saya pindah? Alasan pertama, karena kontraknya kebetulan sudah habis juga. Alasan kedua, karena teman-teman yang saya kenal di kosan itu tidak ada yang berniat memperpanjang kontraknya. Alasan ketiga, karena kamar yang seharusnya ditempati berdua itu mulai terasa terlalu luas bagi saya. Kadang-kadang saya suka kesepian sendiri melihat setengah kamar yang saya biarkan lowong selepas kepindahan teman sekamar saya.

Saya pun akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada kamar yang telah saya tinggali selama 3 tahun.

Kemana saya pindah? Inilah kamar ke-3 saya. Jadi ceritanya..

Aku berjalan memasuki gang menuju kosanku. Rencana mau mengontrak bareng teman seorganisasi sudah batal karena tidak ada tempat yang  sreg dengan keinginan dan kebutuhan kami. Artinya aku harus cari tempat sendiri untuk kutinggali selama setengah tahun kedepan karena aku keburu melepaskan kamarku ke junior yang baru akan diusir dari asrama.

Sesampainya di depan gerbang kosanku, aku menemukan kertas putih terlaminating ditempel di gerbang. Seingatku tadi pagi kertas itu tidak ada.

Ada kamar kosong. Hubungi Ibu A (0813****####)

Begitu tulisannya. Sontak aku tersenyum girang. Kebetulan sekali!! Batinku.

” Pak teddyyy~” aku memanggil bapak penjaga kosanku.

” Kenapa kak?” sahutnya sambil berjalan keluar dari rumahnya begitu mendengar panggilanku.

” Pak, itu ada kamar kosong?” tanyaku sambil menunjuk kertas tadi dengan ibu jari.

” Iya ada kak. Itu di kosan sebelah ada yang kosong 1″ jawabnya sambil menunjuk kosan yang letaknya tepat di sebelah kosanku. “Kakak mau?” tanyanya.

“Boleh pak. Bisa diliat sekarang?” aku balik bertanya.

Si bapak pun kembali masuk ke rumahnya dan beberapa saat kemudian keluar membawa serenteng kunci. Kami segera berjalan menuju kosan sebelah untuk melihat ‘calon kamar’-ku.

” Gimana ka? Kalau kakak mau, nanti bapak bantu pindahan.” tanya bapak setelah menunjukkan kamar yang dimaksud.

” Oke pak. Deal~!” jawabku mantap.

” heheheh.. Si kakak ini. Yaudah ini kuncinya.” sahut bapak sambil terkekeh. Agaknya beliau terkejut dengan keputusanku yang terkesan spontan. Tapi karena sudah kenal lama, bapak tidak banyak bertanya-tanya.

Besoknya, di bantu oleh Pak Teddy, akupun pindah ke kosan sebelah.

Dan disinilah saya sekarang tinggal. Duduk di kasur selepas melakukan bersih-bersih besar-besaran. Baru sekarang ini saya sempat benar-benar bersih-bersih kamar ini. Dulu waktu baru pindah, kamar ini baru dibersihkan oleh istrinya bapak. Selepas pindahpun saya hanya sempat beres-beres seadanya, sekedar agar layak huni.

Tiga bulan kemarin banyak sekali yang sudah terjadi. Sedikit sekali waktu yang saya habiskan di kamar ini. Selama tiga bulan kebelakang kamar ini benar-benar hanya menjadi tempat tidur dan mandi bagi saya. 

Akhirnya hari ini, ya sejak tengah malam tadi, saya mondar-mandir di kamar ini. Bukan hanya sekedar bersih-bersih, tapi juga merombak. Menjadikan ruangan kecil dengan kamar mandi yang tidak kalah kecilnya ini menjadi ruangan yang bisa saya sebut kamar.

Bukan hanya menjadi tempat untuk tidur, menyimpan barang dan mandi. Tapi menjadi sebuah kamar, sebuah tempat “nyaman” yang menjadi pelarian dari hiruk pikuknya keseharian yang padat dan membosankan.

Setelah 3 bulan, dengan berbangga hati saya ucapkan…

Selamat datang di Kamar Baru 😊