Posted in slice of life

Kamar baru

Kalau post ini dibikinnya 3 bulan yang lalu, mungkin judulnya masih relevan.. Tapi gak papa. Saya yakinkan, bahwa begitu tulisan ini selesai, judul ini akan kembali menjadi relevan

Jadi, 3 bulan berlalu, dan kini genap (atau ganjil? πŸ˜•) sudah 3 bulan saya menempati kamar ‘baru’ ini.

Selama kuliah di kampus pertanian ini ada 3 kamar yang sudah saya klaim menjadi “kamar saya”

Yang pertama adalah kamar 398 lorong 10 asrama A3, yang saya tempati selama 1 tahun penuh di tingkat pertama saya, bersama 3 orang kawan lainnya.

Kamar yang ke-2 adalah kamar kosan perdana saya. Nama kosannya Tazkia. Kosan ini saya ‘temukan’ H-2 pengusiran kami (yang saat itu masih TPB) dari asrama. Jadi ceritanya..

” What?! Serius lusa check out asrama??!!” seruku shock begitu mendengar berita yang di bawa oleh warga kamar sebelah.

” Iya makanyaaaa buruan ayok malam ini kita cari kosan~” lanjut si pembawa berita.

Akhirnya malam itu kami berdua pun berkelana mencari kosan. Sampailah kami pada sebuah kosan yang sedang direnovasi dan jauh dari kata sempurna.

“Ini kosannya si …. ” ujar temanku itu sambil menyebutkan beberapa nama, warga lorong kami. “Bisa berdua, kamar mandi dan tempat jemuran di dalam..” lanjutnya seperti promosi.

“Lagi nyari kosan kak?” tiba-tiba sebuah suara bertanya. Seorang bapak paruh baya muncul dari balik gerbang kosan yang sedang diperbincangkan.

“Iya pak..” jawabku.

Setelah ngobrol beberapa menit dan sedikit lihat-lihat, bapak itu berkata, “Kalau kakak fix mau disini, sama bapak kamar kakak diselesain duluan. Besok juga udah bisa ditempatin..”

“Oke pak kalau gitu!!” jawab kami berdua tanpa pikir panjang.

Besok malamnya, H-1 check out asrama, aku dan temanku yang akhirnya menjadi teman sekamarku pindahan ke kamar baru kami.

Kamar itu saya tempati berdua bersama teman sekamar saya hingga akhir tingkat 2. Setelah itu teman sekamar saya pindah kampus dan saya pun menempati kamar itu sendiri hingga menjelang akhir semester 8.

Bulan Juli tepatnya tanggal 1, saya meninggalkan kamar itu. Inginnya sih alasannya karena akhirnya saya lulus. Tapi itu namanya bohong.

Kenapa saya pindah? Alasan pertama, karena kontraknya kebetulan sudah habis juga. Alasan kedua, karena teman-teman yang saya kenal di kosan itu tidak ada yang berniat memperpanjang kontraknya. Alasan ketiga, karena kamar yang seharusnya ditempati berdua itu mulai terasa terlalu luas bagi saya. Kadang-kadang saya suka kesepian sendiri melihat setengah kamar yang saya biarkan lowong selepas kepindahan teman sekamar saya.

Saya pun akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada kamar yang telah saya tinggali selama 3 tahun.

Kemana saya pindah? Inilah kamar ke-3 saya. Jadi ceritanya..

Aku berjalan memasuki gang menuju kosanku. Rencana mau mengontrak bareng teman seorganisasi sudah batal karena tidak ada tempat yang  sreg dengan keinginan dan kebutuhan kami. Artinya aku harus cari tempat sendiri untuk kutinggali selama setengah tahun kedepan karena aku keburu melepaskan kamarku ke junior yang baru akan diusir dari asrama.

Sesampainya di depan gerbang kosanku, aku menemukan kertas putih terlaminating ditempel di gerbang. Seingatku tadi pagi kertas itu tidak ada.

Ada kamar kosong. Hubungi Ibu A (0813****####)

Begitu tulisannya. Sontak aku tersenyum girang. Kebetulan sekali!! Batinku.

” Pak teddyyy~” aku memanggil bapak penjaga kosanku.

” Kenapa kak?” sahutnya sambil berjalan keluar dari rumahnya begitu mendengar panggilanku.

” Pak, itu ada kamar kosong?” tanyaku sambil menunjuk kertas tadi dengan ibu jari.

” Iya ada kak. Itu di kosan sebelah ada yang kosong 1″ jawabnya sambil menunjuk kosan yang letaknya tepat di sebelah kosanku. “Kakak mau?” tanyanya.

“Boleh pak. Bisa diliat sekarang?” aku balik bertanya.

Si bapak pun kembali masuk ke rumahnya dan beberapa saat kemudian keluar membawa serenteng kunci. Kami segera berjalan menuju kosan sebelah untuk melihat ‘calon kamar’-ku.

” Gimana ka? Kalau kakak mau, nanti bapak bantu pindahan.” tanya bapak setelah menunjukkan kamar yang dimaksud.

” Oke pak. Deal~!” jawabku mantap.

” heheheh.. Si kakak ini. Yaudah ini kuncinya.” sahut bapak sambil terkekeh. Agaknya beliau terkejut dengan keputusanku yang terkesan spontan. Tapi karena sudah kenal lama, bapak tidak banyak bertanya-tanya.

Besoknya, di bantu oleh Pak Teddy, akupun pindah ke kosan sebelah.

Dan disinilah saya sekarang tinggal. Duduk di kasur selepas melakukan bersih-bersih besar-besaran. Baru sekarang ini saya sempat benar-benar bersih-bersih kamar ini. Dulu waktu baru pindah, kamar ini baru dibersihkan oleh istrinya bapak. Selepas pindahpun saya hanya sempat beres-beres seadanya, sekedar agar layak huni.

Tiga bulan kemarin banyak sekali yang sudah terjadi. Sedikit sekali waktu yang saya habiskan di kamar ini. Selama tiga bulan kebelakang kamar ini benar-benar hanya menjadi tempat tidur dan mandi bagi saya. 

Akhirnya hari ini, ya sejak tengah malam tadi, saya mondar-mandir di kamar ini. Bukan hanya sekedar bersih-bersih, tapi juga merombak. Menjadikan ruangan kecil dengan kamar mandi yang tidak kalah kecilnya ini menjadi ruangan yang bisa saya sebut kamar.

Bukan hanya menjadi tempat untuk tidur, menyimpan barang dan mandi. Tapi menjadi sebuah kamar, sebuah tempat “nyaman” yang menjadi pelarian dari hiruk pikuknya keseharian yang padat dan membosankan.

Setelah 3 bulan, dengan berbangga hati saya ucapkan…

Selamat datang di Kamar Baru 😊

Advertisements

Author:

Biology college student | Oranger | Illegal citizen of Gublernation | Cassie S1 Buddy Carat | @ifahoren on instagram

4 thoughts on “Kamar baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s