Posted in random, thoughts

1% Galau

Hujan itu 99% air, 1% kenangan

Ini quote milik siapa sih? Yang jelas, bukan milik ifah. Quote ini, quote yang lazim terlontar ketika hujan mengguyur. Ada aja yang iseng. Eh gak tau iseng atau bukan sih.. Gimana orangnya aja itu mah. Ya mungkin juga, bagi dia memang ada 1% kenangan yang terkandung dalam setiap hujan yang turun.

Ifah belum pernah survey, tapi ifah yakin, nggak hanya satu atau dua orang di dunia ini yang merasa hujan itu bikin galau. Pertanyaannya bisa jadi, “apa iya?” , atau sebatas “kenapa?”

Apa iya hujan bikin galau?

Atau

Kenapa hujan bikin galau?

Pertanyaan mana yang dipilih, itu tergantung kepercayaan masing-masing. Yang percaya hujan memang bikin galau, mungkin akan mempertanyakan kenapa. Yang nggak percaya, mungkin akan mempertanyakan kebenarannya, apa iya.

Ah.. Galau memang. Kata hits zaman sekarang. Apa juga yang nggak jelas disimpulkan jadi galau. Padahal gak tau juga definisi galau menurut KBBI apaan. 

Harus ifah akui, galau atau bukan, hujan memang selalu memunculkan perasaan yang menggantung. Entah perasaan apa itu namanya, mungkin juga keentahan itu yang menyebabkan galau.

Tapi, coba pikir kayak gini. Andaikan aja benerlah hujan bikin galau, apakah itu artinya masyarakat yang tinggal di daerah dengan curah hujan yang tinggi memiliki intensitas kegalauan yang lebih tinggi? Bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah dengan curah hujan yang rendah? Adakah yang pernah membandingkan intensitas kegalauan warga London dengan Mesir? Atau jangan jauh-jauh deh.. Bogor dengan Jakarta aja..

Ifah rasa kalau ditaro seperti itu, nampaknya nggak masuk akal kalau ada korelasi antara hujan dan galau.

Hujan yang rajin mampir ke Bogor nggak akan menjadikan warga Bogor lebih galau dibandingkan warga Jakarta. Sama halnya dengan warga Jakarta nggak berarti lebih nggak galau dibandingkan warga Bogor. 

Terus gimana dengan 1% kenangan yang terkandung dalam hujan? Ah.. Ya mungkin ada benarnya. Semua orang juga punya kenangan di kala hujan. Suasana yang familiar membuat suatu kenangan kembali terkenang. Seperti deja vu, bedanya kenangan bukan sekedar perasaan pernah terjadi, tapi memang pernah, sudah, terjadi.

Kalaulah kenangannya sama mantan dan akhirnya bikin galau, ya berarti bukan salah hujan kamu galau. Salah sendiri memilih kenangan buat dikenangnya yang galau galau. Kurang-kuranginlah, giliran hujan tuh jangan selalu dipake buat mengenang. Bikin kenangan baru apa susahnya sih? Ketika hujan selanjutnya dan kamu memang gak ada kerjaan lain kecuali untuk mengenang, pilihlah kenangan yang nggak bikin galau..

Ada banyak cara untuk melewati hujan. Caranya bisa kamu pilih sendiri. Karena untuk galau atau nggak, mengenang atau nggak, itu semua pilihan. Bukan kewajiban yang datang bersama hujan.

Advertisements